http://ymanhitu.blogspot.com (Blog containing multilingual writings)
http://uabmeto.blogspot.com (Special blog in Dawan/Uab Metô)
http://ymanhitu-poemoj.blogspot.com (Blog containing Esperanto poems)
said 4 months ago
Report Abuse ·
Permalink · 0 Comments
Bahasa Tetun di Timor-Leste
berkembang pesat. Hal ini dibuktikan dengan kian bertambahnya jumlah
kosakata baru –terutama dari bahasa Portugis – yang diadopsi ke dalam
bahasa Tetun dari hari ke hari, terlebih setelah berdirinya negara baru
Timor-Leste. Kamus ini hadir untuk menjadi saksi "kristal" bagi
perkembangan bahasa tersebut. Dengan penjelasan yang ringkas dan mudah
dimengerti, serta isi yang informatif dan contoh kalimat juga
percakapan, para pembaca akan merasakan mudahnya menggunakan kamus ini
dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam komunikasi lisan.======================================Lia-tetun
iha Timór Lorosa’e dezenvolve lalais. Ne’e ita prova ho vokabuláriu
foun sira ne’ebé mosu hetok barak – liuliu hosi lia-portugés – mak
haktama ba lia-tetun hosi loron ba loron, liuliu depois nasaun foun
Timór Lorosa’e hakrii. Disionáriu ida-ne’e iha atu sai sasin "kristál"
ba dezenvolvimentu língua nian ne’ebé naktemi. Ho esplikasaun be badak
i kamaan atu komprende no konteúdu be informativu, nomos ezemplu fraze
sira no konversa be hakfó iha laran, lee-na’in sira sei sente lasusar
uza disionáriu ida-ne’e iha situasaun moris loroloron nian, liuliu iha
komunikasaun orál. ======================================The
Tetum language in East Timor develops rapidly. It can be proved by the
more and more new vocabularies – mostly from Portuguese -- introduced
into the language day by day, especially after the independence of East
Timor. This dictionary is intended to be a “crystal” witness for the
language development mentioned. With concise and easy explanations and
informative contents, as well as available sample phrases and
conversations, readers will find it easy to use this dictionary in
daily situations, especially in oral communication. Untuk membaca detail buku, klik di sini.
said 4 months ago
Report Abuse ·
Permalink · 0 Comments
Oleh: Yohanes Manhitu
MASYARAKAT
Indonesia dewasa ini pada umumnya bersifat dwibahasa (bilingual),
artinya menggunakan dua buah bahasa secara bergantian dalam
kehidupannnya sehari-hari. Barangkali di dalam keluarga seseorang
menggunakan bahasa daerah dan ketika berbicara dengan orang yang
berlainan suku alias orang luar, ia menggunakan bahasa Indonesia.
Tetapi tidak sedikit orang yang hidup dengan satu bahasa saja sepanjang
hayatnya. Pernahkan Anda membayangkan hidup sebagai seseorang yang
ekabahasa (monolingual)? Bagi Anda yang sudah telanjur menjadi
bilingual, tidak ada lagi kemungkinan untuk kembali menjadi
monolingual, kecuali bahasa-bahasa yang lain dihapus dari otak. Di
Indonesia, dewasa ini sudah banyak anak yang bilingual atau bahkan
trilingual sejak masa kanak-kanak, tidak seperti kakek atau nenek
mereka yang barangkali sepanjang hidup hanya mengenal bahasa daerah.
Hal ini sangat mungkin apabila seorang anak memiliki orangtua yang
berasal dari suatu suku dan kemudian tinggal di tempat lain sehingga si
anak lahir dan tumbuh di sana. Jika mereka sepakat untuk mengajarkan
bahasa ibu mereka ditambah dengan bahasa setempat dan bahasa nasional,
maka si anak akan menjadi penutur tiga bahasa. Bahkan jika tak diajar
secara langsung pun, dalam diri si anak akan tumbuh benih-benih
poliglot (pengguna banyak bahasa) selama kedua orangtuanya
terus-menerus menggunakan bahasa ibu mereka.
Di banyak negara
maju keekabahasaan (monolingualisme) bukan hal baru dan tidak menjadi
masalah serius apabila bahasa yang digunakan adalah bahasa-bahasa mayor
seperti bahasa Inggris atau bahasa Prancis karena keadaan tersebut
tidak akan menghambat mereka untuk memperoleh informasi dan pengetahuan
(modern). Hal ini sejajar dengan kondisi Indonesia yang hanya
menggunakan bahasa Indonesia, tanpa memiliki kemampuan bahasa daerah
atau pun bahasa asing. Tetapi akan lain ceritanya apabila bahasa yang
digunakan secara monolingual adalah salah satu bahasa ‘minor’ di
Indonesia yang ruang lingkup penggunaannya (amat) sangat terbatas.
Dapat dibayangkan betapa miskinnya akses informasi bagi kepentingan dan
kemajuan hidup penutur tersebut. Tidak sekadar itu. Di Indonesia
umumnya orang-orang yang hanya menggunakan bahasa daerah – tanpa
sedikit pun bahasa Indonesia atau bahasa asing – adalah orang-orang
yang masih buta aksara alias tak bisa baca-tulis. Dan ‘monolingualisme
lokal’ indentik dengan keterbelakangan dan kemiskinan, paling tidak
pada tataran intelektual. Oleh karena itu, pemerintah perlu
terus-menerus menggenjot usaha pemberantasan buta aksara guna mengikis
kebutaaksaraan di tingkat masyarakat yang paling rendah. Namun bila
program ini sukses dan orang-orang belajar tersebut mulai dapat
menggunakan bahasa Indonesia, maka dapat dipastikan bahwa jumlah orang
yang monolingual akan berkurang. Sekali seseorang sanggup menggunakan
bahasa kedua, maka dia tidak lagi menjadi monolingual, tetapi bilingual.
Terlepas
dari kelemahan-kelemahan tersebut di atas, marilah kita secara sekilas
melihat keunggulan-keunggulan yang terkandung dalam ‘monolingualisme
lokal’ ini. Seseorang yang monolingual biasanya merupakan pengguna
intensif bahasa lokalnya karena tidak ada bahasa alternatif sebagai
media ungkap. Dan bilang orang tersebut berdiam di daerah yang sangat
terpencil dan tidak memungkinkan kontak sosial dengan orang luar, maka
kemurnian bahasanya relatif masih terjamin – belum tercemar oleh bahasa
asing yang memungkinkan adanya bahasa gado-gado. Kondisi seperti ini
sudah semakin berkurang pada zaman modern ini. Menurut hemat saya,
keadaan ini menguntungkan para pemburu 'bahasa perawan'.
Pada
zaman dahulu keterbatasan akses informasi bagi seorang monolingual
lokal mungkin tidak terasa. Namun pada masa kini, ketika bahasa
nasional dan bahasa ‘internasional’ sudah merambah semua ranah
kehidupan sosial, orang-orang yang monolingual merasa terdesak dan
tersisih, bahkan kadang mereka menjadi rendah diri di tengah-tengah
para penutur bilingual atau multilingual. Dapat dibayangkan betapa
terasingnya seorang ibu yang mempunyai anak-anak yang semuanya
berpendidikan (tinggi) dan cenderung menggunakan bahasa Indonesia atau
bahasa asing ketika berkumpul pada suatu acara keluarga. Menyadari
keterbatasan seperti ini, banyak orang yang awalnya monolingual
memotivasi diri untuk belajar bahasa kedua sehingga akhirnya menjadi
bilingual juga. Kasus yang cukup menarik adalah di Timor-Leste. Di sana
jarang sekali ditemukan orang yang monolingual karena selain berbicara
bahasa daerah, setiap orang bisa berbicara bahasa Tetun (agar bisa
berbicara dengan orang dari suku lain). Dan mereka juga bisa bahasa
Indonesia dan bahasa Portugis (paling kurang secara pasif). Maklum,
negara ini mempunyai dua buah bahasa resmi (Tetun dan Portugis).. Melihat
kenyataan ini, kita dapat memperkirakan bahwa globalisasi (bukan
gombalisasi!) dan konsep dusun global akan secara perlahan namun pasti
mengurangi jumlah penutur monolingual lokal di Indonesia dan juga di
belahan bumi yang lain. Perkiraan ini tidak berlebihan karena
generasi-generasi belakangan ini lebih banyak yang bilingual dan bahkan
multilingual. Saya pikir, hal ini tidak perlu disesali apalagi
ditangisi. Selama kita masih peduli terhadap bahasa-bahasa daerah kita
yang memang terus-menerus memerlukan perhatian serius, terlebih pada
masa sekarang, maka bilingualisme dan multilingualisme yang kita miliki
justru akan menjadi teropong yang baik untuk mengamati secara akurat
dan membantu pengembangan bahasa-bahasa daerah yang telah mengantarkan
masyarakat kita ke pintu gerbang kemajuan. Ibarat bepergian dengan
pesawat terbang, jangan kita membiarkan bahasa-bahasa daerah kita
tinggal di landasan sedang kita kita secara acuh tak acuh tinggal
landas dan lepas pergi.
Yogyakarta, 28 Juli 2008
said 4 months ago
Report Abuse ·
Permalink · 0 Comments